Bangun lagi…

Lama juga aku tertidur dari bisnis kelinci… Bukan kenapa2… tiba2 saja aku dapat modal hibah dari pemerintah buat budidaya kentang. Dan selama berbulan2 aku hanya berkutat dengan kentang. Dan sekarang, setelah kentang habis, aku kembali melirik kelinci, yang dunianya sudah cukup lama hilang….

Buat teman2, maaf  lama tidak kasih kabar, tapi Insya Allah sekarang dah mulai tertata. Selain soal modal yang mulai kelihatan, -maklum biz panen kentang- wawasan soal pasar pun mulai terbuka.

Tapi sepertinya aku tidak mau berjudi terlalu besar, artinya aku tidak akan main di bisnis kelinci hias. Bukan berarti bisnis ini prospeknya jelak, tidak, ini masalah intuisi saja. Saya hanya ingin fokus di kelinci pedaging, yang saya sudah bisa melihat pasarnya.

Mohon doanya ya….

Persiapan Kandang

Semoga hari bersejarah itu benar2 terjadi, dimana bisnis kelinciku benar-benar berjalan. Mas Nono juga antusias untuk belajar kelinci, sehingga tidak main-main ketika menawarkan lahannya untuk digunakan beternak kelinci. Segala sesuatu telah dipersiapkannya mulai dari alat untuk bersih2 lahan, asbes, usuk, hingga segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membuat kandang. wow..

Tentu saja status bisnis jadi rancu. Tapi inilah kesempatan untuk mulai. Seperti Bung Karno yang memproklamirkan negara ketika kondisi belum sepenuhnya sempurna, maka proklamasi kandang kelinci Cocorabbit juga tidaklah harus menunggu segala sesuatunya matang. Meskipun secara akuntansi akan susah untuk menyusun neraca bisnis, namun marketing memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat untuk membuat angka2 akuntansi nantinya tampil secara mencengangkan.

Persoalan sekarang ada pada investasi awal. ya, meskipun segala sesuatunya telah disiapkan, namun tak mungkin lah aku tak keluar modal sama sekali. Apalagi kalau tiang penyangganya jadi pakai dicor segala, jadi makin komplit nanti investasinya.

Disinilah mentalitas enterpreneur berbicara. Aku harus bisa meyakinkan debitur untuk membuat bisnis ini segera berjalan. Dan debitur yang paling memungkinkan adalah ortu. Ya moga aja lancar. Amien..

new chapter

hari ini adalah hari yang istimewa, karena ayam yang sudah ber-ta’aruf selama satu bulan lebih denganku, diangkut semua… :-( sebentar lagi atau mungkin saat ini mereka sudah pergi untuk selamanya… :-C

Tapi di sisi lain, genderang revolusi segera ditabuh kembali. Barusan ketemu sama mas nono, survei lokasi, ngobrol2, ngomongin prospek bisnis, rencana dia sama rencanaku, bisnis dia sama bisnisku, and kesimpulannya… its… ok, silahkan pakai lokasi, silahkan dimanfaatkan, silahkan mengembangkan potensi… wow…  action tinggal menunggu waktu…

kenapa mas nono ngijinin? karena ternyata beliau juga lagi mo belajar ternak kelinci, soalnya ternak kambingnya ga kerasa kerasa banget hasilnya.

nah.. kalo ceritanya dah jelas kayak gitu, tunggu apa lagi?

Susahnya Memulai

Sesuatu yang diperoleh dengan susah payah akan susah pula hilangnya. Mengukir dia atas batu hasilnya tidak akan bisa diraih dalam 1 atau 2 menit, tapi akan bisa kekal, kecuali ada force majeur. Nah, begitu juga dengan kandang kelinciku. Harus bersabar dulu sebulan beternak ayam buat ngumpulin modal, baru bisa berdiri, itupun ndompleng pekarangan tetangga, itupun masih harus menunggu berebulan2 untuk menghasilkan cash-in.

Tapi hasil usahaku mempresentasikan bisnis ini kepada Bos Andri yang berbuah pada minatnya untuk segera memulai, dan itu sudah dibuktikan dengan penanaman ketela sebagai bahan makanan, membuatku merasa dapat berkah dari dunia perkelincian ini.

So… semua upaya telah dilakukan, tinggal menunggu tanggal mainnya saja.

Membentuk Kelompok

Sepertinya aku harus segera meredam egoku untuk mengesampingkan yang namanya kelompok. Meskipun akan lebih repot jadinya jika nantinya aku mengurusi banyak orang, tapi tanpa itu aku akan kesulitan juga untuk memperoleh modal. Informasi dari bos didik bahwa ada dana 200 juta-an dari deptan yang siap disalurkan sebaiknya segera kurespon saja. Bikin proposal, bikin business plan, bikin kelompok, serta menanamkan pengertian-pengertian diantara orang2 yang aku rekrut. Meskipun aku yang kerja dan jika cair nanti dana itu untuk kelompok, dan aku harus ikut bertanggung jawab atas kelancaran angsuran anggota-anggota kelompok yang lain, tapi ya beginilah the best possible-nya. Sebaiknya aku membandingkan kehidupanku dengan saudara2 di Gaza misalnya, jadi meski memonitor banyak hutang tapi masih bisa bersyukur. Habisnya mo gimana lagi? Masak jualan es cendol dulu baru bisnis kelinci?

Dan sepertinya pula aku sudah harus mulai mencermati perkembangan berita perkelincian di tanah air, karena ada internet yang mudah diakses disini. Blog ini juga akan mulai aktif menampilkan info2 aktual di salah satu page-nya. Untuk artikel sementara masih mencomot punya orang, tapi nanti seiring berjalannya waktu mudah2an artikel2 yang tampil atas hasil karya Mas Koko sendiri.

Huh… capek banget ga mulai2… ayo semangat!!!!! Buat semua pengunjung blog ini, mohon doanya ya biar segera jalan… Amin…

Maaf Pak Petrus…

Seharusnya kemarin aku ikut pertemuan peternak kelinci, setelah dapat undangan dari Pak Petrus. Tapi bagaimanapun harus kuakui hati ini berkecamuk antara datang dan tidak. Sebenarnya pengen datang karena kesempatan untuk jadi lebih pinter, tapi di sisi lain ga pede juga kalo datang karena belum mlai memelihara kelinci.

Jadi maaf ya Pak Petrus, nanti lah, bentar lagi setelah situasi ‘politik’ sekiranya memungkinkan untuk start, segala sesuatu pasti akan kulakukan dengan segenap kemampuan yang ada. Blog ini pun rencananya akan dibuat lebih profesional dengan membeli domain. Materinya juga akan lebih ilmiah, yang akan sangat berguna bagi rabbit l0ver.

badai pasti berlalu

Judul itu barangkali mengingatkan kita pada alm. Chrisye. Namun makna dibalik lagu itu sebenarnya cukup dalam, memiliki pesan moral akan optimisme serta pantang berputus asa. Kalo Michael Learns to Rock pernah bilang, “I Believe I’ll found a miracle” atau kepercayaan akan bertemu dengan sebuah kejaiban, maka begitulah hidup ini berjalan. Kita kadang menemukan kejaiban yang tidak pernah bisa kita tebak sebelumnya.

Begitu juga dengan cocorabbit. harapan akan eksistensi peternakan kelinci yang hampir sirna ini kini merekah lagi. Ibarat habis tersapu badai, karena beberapa hal yang nyaris menghapuskan mimpi ini, kini kembali berkesempatan untuk bangun lagi karena badai itu telah pergi.  Sebabnya adalah adanya saudara yang menawarkan kepada keluargaku untuk memanfaatkan tanahnya sementara, karena ‘mungkin’ tujuan pembelian tanah itu adalah untuk investasi, bukan untuk dimanfaatkan keberadaannya. Kalo sudah begini, aku jadi punya lahan untuk menggunakannya sebagai kandang kelinci. Ya meski ga begitu besar, namun cukup lumayan lah untuk memulai bisnis.

Bisnis ini juga mulai mendapat respon dari teman2ku yang membutuhkan ide untuk berwiraswasta. Modal yang tidak begitu besar sera proses BEP yang secepat kilat menjadi alasan kenapa mereka tertarik. Ya setidaknya aku juga maskin pede dengan konsep bisnis ini. Yang penting berjuang dan terus berjuang, dan jika beruntung nanti akan kutemukan keajaiban.

Pak Petrus: The Master of Rabbit

Pertemuanku dengan Pak Petrus seminggu yang lalu tak dapat dipungkiri telah membuka cakrawalaku tentang dunia perkelincian khususnya di Tanah Air, lebih khusus lagi di Yogyakarta. Luar biasa, dalam beberapa jam ketidak tertarikanku pada kelinci hias berbalik 180 derajat. Bahkan aku justru lebih tertarik pada kelinci hias daripada kelinci pedaging.

Apalagi kalau tahu lebih dalam bahwa yang namanya anggora, rex, dwaft, dutch itu ada sub-subnya lagi. Ah, sampai lupa nie jenisnya apa saja. Habisnya ilmu sebanyak itu diberikan secara instan, ya ga mungkin dikuasai semuanya.

Anyway, aku salut banget sama Pak Petrus yang rela bagi-bagi ilmu atas apa yang telah ditekuninya selama ini. So… setidaknya sekarang aku bisa punya tujuan ke arah mana bisnisku bergerak. Yang membuat aku tertarik atas bisnis ini adalah unsur fun yang akan kita miliki selama menjalaninya. Habisnya kelinci lucu sich… mending punya kelinci daripada punya pacar yang suka marah, he3… Padahal pekerjaan yang paling diinginkan banyak orang di dunia ini adalah pekerjaan yang kita senangi. Jadi buat Pak Petrus, terima kasih banyak ini…

Tapi bagaimanapun aku harus menghitung kesiapan modal juga untuk terjun disini. Ga bisa sembarangan. Apalagi sekarang aku lagi memulai bisnis ternak ayam potong. Seluruh energi dan perhatianku sementara tertuju kesana. Jadi, mungkin baru setelah hasil panen nanti -Insya Allah berhasil- terpegang baru aku bisa mulai mengoleksi kelinci-kelinci hias.

Kelinci pedaging? Tenang aja, kalau lahan dah dapat -maksudnya dah punya uang buat sewa lahan gitu :-) – maka kelinci pedaging akan tetap berjalan. Maklum untuk kelinci jenis ini diperlukan jumlah yang lebih banyak untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup.

So.. keep on spirit…!!!

Konsorsium Modal Dengkul

Salah satu ajaran Bung Karno yang benar2 aku rasakan betul nilai kebenarannya saat ini adalah ajaran tentang Trisakti. Berdaulat di dalam berpolitik, berdikari di dalam ekonomi, berkepribadian di dalam berbudaya. Sayang aku lahir lebih dari 10 tahun setelah beliau wafat. Jika memang benar ajaran itu diterapkan, pastilah kita tidak akan terbelenggu oleh utang LN. Kita juga lebih punya harga diri dalam percaturan politik dunia, tidak didikte melulu. Juga dalam dunia hiburan. Kita sebenarnya masih bisa hidup dan masih bisa memperoleh kebahagiaan jika tidak ada hollywood sekalipun. Tidak ada bon jovi, metalica, greenday, coldplay, shakira ataupun rihanna. Apa sih manfaat yang kita peroleh dari menonton titanic? james bond? american pie? Apa juga yang kita peroleh dengan berjingkrak2 kala mendengarkan musik2 greenday? trus kita yang kulitnya item ini rambutnya dibikin blonde, apa pantas?

Tapi bagaimana lagi, semua sudah sedemikian terlanjur. Mungkin memang sulit menerapkan ajaran itu untuk negara, tapi untuk kehidupan yang lebih kecil, pasti bisa. Ya, aku harus berdaulat di bidang politik. Jangan didikte oleh siapapun. Beruntung aku sekarang hanya didikte oleh orang tua, wajarlah. Ya setidaknya aku masih jadi ketua pemuda di kampung, dan aku bisa menentukan arah kemana organisasiku berjalan. Aku rasa itu suatu kedaulatan politik juga. Berkepribadian dalam berbudaya? Ya setidaknya aku sudah ga terlalu tergila2 lagi sama musik barat meski dulu pernah menempel poster bon jovi di kamar. Aku ada grup musik campursari dan kerawitan gending2 jawa sehingga aku mulai menemukan kepribadian asli disana dimana aku tidak perlu lagi merasa menjadi orang lain. Sikapku setidaknya sudah cukup membuat jengkel para pelaku industri musik modern, karena aku tidak pernah membeli produk2 mereka.

Berdikari dalam ekonomi? nah…. ini yang ada hubungannya sama cocorabbit. Bagaimanapun makan atas hasil jerih payah sendiri jauh lebih enak daripada makan hasil pemberian orang lain, karena yang kedua punya konsekuensi. Kalau kemudian ada pamrihnya gimana?

Dalam hidupku, salah satu saat yang paling mencekam adalah ketika dililit utang, saat punya proyek bangunan beberapa tahun lalu. Kalau saja aku sudah berkeluarga terus punya istri yang cantik, terus diancam bayar hutang pakai uang atau pakai istri? Modar aku.

Itulah yang aku merasa ajaran Bung Karno benar adanya. Maka untuk memulai cocorabbit haruslah dengan kekuatan yang dimiliki terlebih dahulu. Hutang, harus dengan perhitungan matang. Dan sebaiknya maksimal 30 persen dari aset. Biarlah bisnis ini tidak berkembang sepesat bisnis2 konglomerat jaman orba, namun bisnis ini akan tetap berdiri dengan kokoh nantinya dan berkembang secara stabil pertumbuhannya.

Tapi bisnis kan harus pakai modal to mas? Ya, itulah yang aku maksud. Jika kemarin aku berfikir untuk mengumpulkan uang dengan beternak ayam hingga bisa membangun kandang sendiri, maka sekarang aku menemukan cara yang lebih cemerlang dimana aku tidak perlu menunggu terlalu lama. Ada Bos Didik dan Bos Amik yang bisa aku ajak untuk membentuk sebuah sekutu bisnis. Namun karena sekarang sama2 belum bisa menggelontorkan modal, maka bertiga harus jalan sendiri2 agar dapat sejumlah uang untuk memulai bisnis. Caranya gimana? Ya terserah lah, mau ngamen di perempatan kek, mau jadi tukang pijat kek…

Tapi ga seekstrim itu lah. Ada beberapa celah yang bisa diambil. Bos Didik mulai terbuka pikirannya untuk memberdayakan istrinya berjualan soto di rumahnya yang di pinggir jalan. Tinggal bagaimana aku mengomporinya untuk segera direalisasikan. Bos Amik sudah mulai ternak kelinci. Aku juga tinggal mengomporinya agar segera ditingkatkan jumlahnya, nanti bisa juga setor saham dalam bentuk kelinci, tinggal dirupiahkan saja untuk menentukan jumlah lembar saham yang dimilikinya.

Aku? Ya sementara aku mengandalkan dari ternak ayam yang sebenarnya masih juga dalam kendali orang tua. Tapi perananku mulai bertambah. Jika itu bisa berjalan lancar, maka ‘konsorsium’ ini akan bisa benar-benar berdiri di atas kaki sendiri. Ketika itu ‘kemungkinan’ bisnis soto masih jalan, bisnis kelinci milik pribadi bos Amik juga masih jalan, bisnis ayam tetap jalan. Jadi ketika perusahaan masih dalam taraf memburu BEP tidak akan dipusingkan oleh masalah perut. Dan perusahaan baru ini nantinya akan dikelola secara modern, terutama dalam manajemen keuangannya. Jadi yang terbentuk bukan lagi kelompok peternak kelinci, tetapi sudah dalam bentuk comanditer venootschap atau bahkan perseroan terbatas.

Kenapa tidak koperasi saja, bukankah itu lebih sesuai dengan ajaran Bung Hatta? Ah, nanti dulu lah. Aku perlu belajar lagi soal itu sebab image koperasi di masyarakat saat ini sudah bergeser. Lagipula fokusku saat ini bukan pada idealisme sebuah lembaga bisnis. Pada saatnya pasti aku akan mengarah kesana juga. Aku hanya berfikir CV atu PT adalah lembaga bisnis yang aku sudah ada pengalaman meski tidak seberapa. Koperasi yang aku tahu hanyalah koperasi simpan pinjam. Jadi perlu energi untuk mendobrak stigma yang berkembang di masyarakat. Itu seperti mensosialisasikan perbedaan bank syariah dengan konvensional. Perlu kerja bersama dan waktu yang lama. Jadi biarlah bisnis kelinci ini tetap fokus pada core businessnya.

Trus, berarti namanya bukan cocorabbit donk? Itu hanya masalah nama. Ketika PDI berganti menjadi PDIP, suara tetap banyak. Logo berubah pun tak masalah. Jadi substansi jauh lebih penting. Cocorabbit hanyalah sebuah puncak gunung yang menjadi tujuan dalam melangkah agar semangat tetap terjaga. Ketika kemudian ada jalan yang lebih lapang untuk mendaki puncak lain, why not? Kata orang2 yang udah sukses, kalu sudah di atas mau melompat kemanapun juga gampang. Jadi kalau sudah jalan, sahamku di konsorsium itu dijual semua juga ga masalah, uangnya aku gunakan untuk mendirikan cocorabbit.

There are so many ways to arrive to Roma…!!!

Kejamnya Kapitalisme

Judul diatas sengaja dibuat karena memang kapitalismelah yang membuat cocorabbit tak juga segera launching. Ya bagaimana mungkin bisnis ini jalan kalau tanpa modal. Ada juga modal buat beli kelinci, kalau buat sewa lahan sama buat bikin kandang ga ada gimana? Belum masalah tenga kerja, ijin usaha dll.

Kalau kelinci cuma memelihara 5 ekor, ya mana bisa disebut bisnis? Bisnis ini harus dimulai dengan jumlah yang sedemikian rupa sehingga hasil panen setahun jika dirata2 ‘harus’ diatas UMR. Bukankah bisa utang? Logikanya hutang diberikan jika usaha sudah jalan dan ada jaminan. Bukankah ada lembaga zakat? Ya, tapi perlu waktu untuk mendekati pengurus2nya. Zakat juga lebih dprioritaskan kepada 8 asnaf, bukan untuk pebisnis coba2..

Lalu, menyerah? hmm.. kata ini selalu membuatku ga pede kalo bilang iya. Ga dong. Ini adalah perjuangan untuk merdeka. Bekerja tidak di bawah tekanan orang lain, tidak juga di bawah bayang2 suram saat hari tua -karena tidak dapat pensiunan. Maka segala kesulitan harus disikapi dengan elegan. Anggaplah ini adalah laksana Belanda mencoba menduduki kembali Yogyakarta, dan aku melakukan gerilya untuk kembali merebut kota perjuangan.

Gerilya? Ya.. aku harus melakukan gerakan bawah tanah. Aku kumpulkan segala informasi yang memungkinkan cocorabbit berdiri tanpa sepengetahuan orang tua. Loh? Ya begitulah. Orang tua memang memegang peranan penting dalam membentuk seseorang menjadi enterpreneur atau pegawai, terutama di Jawa. Bisnis tanpa dukungan keluarga akan terasa berat. Namun keluarga pun akan mendukung ketika bisnis mulai menuai hasil.

Maksudnya apa sih? Sementara aku ngikut sama ortu buat bisnis ternak ayam potong. Namun hasilnya akan aku kumpulkan buat membangun istanaku, meskipun istana itu hanya berbentuk kandang kelinci dengan kapaitas ratusan ekor, namun disitulah aku merasa bisa menjadi raja. Prospek ini harus aku tangkap erat2 karena pasaran kelinci Jogja ternyata tidak hanya di lokal saja namun juga sudah sampai Bali.

Bali? Ya, ada seorang penghobi yang mengaku mendapat pesanan daging kelinci 100 ekor per hari untuk Pulau bali. Dan tentu saja dia tidak sanggup. So… seperti kata Nindji : Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Jadi aku harus tetap menjaga mimpi itu dan tetap berani untuk bermimpi. Sama seperti PSSI yang bermimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Blog ini mungkin akan dilihat sebagai hasil karya orang yang kurang kerjaan. Tapi semoga suatu saat akan menjadi sumber inspirasi bagi orang2 yang ingin melakukan pemberontakan dalam hidupnya.