Salah satu ajaran Bung Karno yang benar2 aku rasakan betul nilai kebenarannya saat ini adalah ajaran tentang Trisakti. Berdaulat di dalam berpolitik, berdikari di dalam ekonomi, berkepribadian di dalam berbudaya. Sayang aku lahir lebih dari 10 tahun setelah beliau wafat. Jika memang benar ajaran itu diterapkan, pastilah kita tidak akan terbelenggu oleh utang LN. Kita juga lebih punya harga diri dalam percaturan politik dunia, tidak didikte melulu. Juga dalam dunia hiburan. Kita sebenarnya masih bisa hidup dan masih bisa memperoleh kebahagiaan jika tidak ada hollywood sekalipun. Tidak ada bon jovi, metalica, greenday, coldplay, shakira ataupun rihanna. Apa sih manfaat yang kita peroleh dari menonton titanic? james bond? american pie? Apa juga yang kita peroleh dengan berjingkrak2 kala mendengarkan musik2 greenday? trus kita yang kulitnya item ini rambutnya dibikin blonde, apa pantas?
Tapi bagaimana lagi, semua sudah sedemikian terlanjur. Mungkin memang sulit menerapkan ajaran itu untuk negara, tapi untuk kehidupan yang lebih kecil, pasti bisa. Ya, aku harus berdaulat di bidang politik. Jangan didikte oleh siapapun. Beruntung aku sekarang hanya didikte oleh orang tua, wajarlah. Ya setidaknya aku masih jadi ketua pemuda di kampung, dan aku bisa menentukan arah kemana organisasiku berjalan. Aku rasa itu suatu kedaulatan politik juga. Berkepribadian dalam berbudaya? Ya setidaknya aku sudah ga terlalu tergila2 lagi sama musik barat meski dulu pernah menempel poster bon jovi di kamar. Aku ada grup musik campursari dan kerawitan gending2 jawa sehingga aku mulai menemukan kepribadian asli disana dimana aku tidak perlu lagi merasa menjadi orang lain. Sikapku setidaknya sudah cukup membuat jengkel para pelaku industri musik modern, karena aku tidak pernah membeli produk2 mereka.
Berdikari dalam ekonomi? nah…. ini yang ada hubungannya sama cocorabbit. Bagaimanapun makan atas hasil jerih payah sendiri jauh lebih enak daripada makan hasil pemberian orang lain, karena yang kedua punya konsekuensi. Kalau kemudian ada pamrihnya gimana?
Dalam hidupku, salah satu saat yang paling mencekam adalah ketika dililit utang, saat punya proyek bangunan beberapa tahun lalu. Kalau saja aku sudah berkeluarga terus punya istri yang cantik, terus diancam bayar hutang pakai uang atau pakai istri? Modar aku.
Itulah yang aku merasa ajaran Bung Karno benar adanya. Maka untuk memulai cocorabbit haruslah dengan kekuatan yang dimiliki terlebih dahulu. Hutang, harus dengan perhitungan matang. Dan sebaiknya maksimal 30 persen dari aset. Biarlah bisnis ini tidak berkembang sepesat bisnis2 konglomerat jaman orba, namun bisnis ini akan tetap berdiri dengan kokoh nantinya dan berkembang secara stabil pertumbuhannya.
Tapi bisnis kan harus pakai modal to mas? Ya, itulah yang aku maksud. Jika kemarin aku berfikir untuk mengumpulkan uang dengan beternak ayam hingga bisa membangun kandang sendiri, maka sekarang aku menemukan cara yang lebih cemerlang dimana aku tidak perlu menunggu terlalu lama. Ada Bos Didik dan Bos Amik yang bisa aku ajak untuk membentuk sebuah sekutu bisnis. Namun karena sekarang sama2 belum bisa menggelontorkan modal, maka bertiga harus jalan sendiri2 agar dapat sejumlah uang untuk memulai bisnis. Caranya gimana? Ya terserah lah, mau ngamen di perempatan kek, mau jadi tukang pijat kek…
Tapi ga seekstrim itu lah. Ada beberapa celah yang bisa diambil. Bos Didik mulai terbuka pikirannya untuk memberdayakan istrinya berjualan soto di rumahnya yang di pinggir jalan. Tinggal bagaimana aku mengomporinya untuk segera direalisasikan. Bos Amik sudah mulai ternak kelinci. Aku juga tinggal mengomporinya agar segera ditingkatkan jumlahnya, nanti bisa juga setor saham dalam bentuk kelinci, tinggal dirupiahkan saja untuk menentukan jumlah lembar saham yang dimilikinya.
Aku? Ya sementara aku mengandalkan dari ternak ayam yang sebenarnya masih juga dalam kendali orang tua. Tapi perananku mulai bertambah. Jika itu bisa berjalan lancar, maka ‘konsorsium’ ini akan bisa benar-benar berdiri di atas kaki sendiri. Ketika itu ‘kemungkinan’ bisnis soto masih jalan, bisnis kelinci milik pribadi bos Amik juga masih jalan, bisnis ayam tetap jalan. Jadi ketika perusahaan masih dalam taraf memburu BEP tidak akan dipusingkan oleh masalah perut. Dan perusahaan baru ini nantinya akan dikelola secara modern, terutama dalam manajemen keuangannya. Jadi yang terbentuk bukan lagi kelompok peternak kelinci, tetapi sudah dalam bentuk comanditer venootschap atau bahkan perseroan terbatas.
Kenapa tidak koperasi saja, bukankah itu lebih sesuai dengan ajaran Bung Hatta? Ah, nanti dulu lah. Aku perlu belajar lagi soal itu sebab image koperasi di masyarakat saat ini sudah bergeser. Lagipula fokusku saat ini bukan pada idealisme sebuah lembaga bisnis. Pada saatnya pasti aku akan mengarah kesana juga. Aku hanya berfikir CV atu PT adalah lembaga bisnis yang aku sudah ada pengalaman meski tidak seberapa. Koperasi yang aku tahu hanyalah koperasi simpan pinjam. Jadi perlu energi untuk mendobrak stigma yang berkembang di masyarakat. Itu seperti mensosialisasikan perbedaan bank syariah dengan konvensional. Perlu kerja bersama dan waktu yang lama. Jadi biarlah bisnis kelinci ini tetap fokus pada core businessnya.
Trus, berarti namanya bukan cocorabbit donk? Itu hanya masalah nama. Ketika PDI berganti menjadi PDIP, suara tetap banyak. Logo berubah pun tak masalah. Jadi substansi jauh lebih penting. Cocorabbit hanyalah sebuah puncak gunung yang menjadi tujuan dalam melangkah agar semangat tetap terjaga. Ketika kemudian ada jalan yang lebih lapang untuk mendaki puncak lain, why not? Kata orang2 yang udah sukses, kalu sudah di atas mau melompat kemanapun juga gampang. Jadi kalau sudah jalan, sahamku di konsorsium itu dijual semua juga ga masalah, uangnya aku gunakan untuk mendirikan cocorabbit.
There are so many ways to arrive to Roma…!!!
Filed under: modal | Leave a Comment »